Jumat, 27 Februari 2015

Alur Pemikiran Untuk Menjadi Seorang Editor

Ketika saya dihadapkan dengan tugas kuliah, dan saya diharuskan berurusan dengan video-video dengan jenis-jenis format yang berbeda-beda. sedangkan saya hanya menggunakan komputer dengan spek rendah, yaitu notebook saya dengan spek intel atom. saya sangat besyukur dengan notebook yang saya miliki. dengan menggunakan notebook ini saya bisa mengunakannya untuk menghasilkan editing video dan  memang tidak sebagus hasil pada komputer dengan spek yang tinggi. mengingat pengalaman, sebelumnya saya sangat tidak puas dengan hal ini. namun dulu saya mendapatkan ejekan dari guru saya pada saat saya bersekolah di SMA NU 1 Gresik, saya sangat bersyukur. ternyata ilmu saya dapat berkembang dan saya dapat memahami broadcasting. Setiap hari, saya selalu berlatih dan berlatih. ketika tidak ada didepan komputer, saya selalu membayangkan bagaimana proses dalam broadcasting. namun, saya tidak diperbolehkan untuk mendaftarkan diri ke ISI surakarta oleh orangtua saya dan akhirnya saya diterima di Jurusan Fisika, Universitas Islam Negeri (UIN) Malik Ibrahim Malang. Ternyata Allah subhanallah ta'ala menakdirkan saya dengan hal yang lain. akhirnya saya vakum dari dunia editing ini, sebelum itu saya merencanakan untuk membuat kenang-kenangan/peninggalan sejarah berupa ebook yang telah saya unggah 3 tahun yang lalu dan semoga bermanfaat. Untuk itu saya akan menulis rangkaian alur pikiran bagaimana saya dapat memahami editing video sampai sekarang.

Sebelum saya menulis artikel ini, saya menganggap bahwa sebuah proses editing sangatlah mudah, namun membutuhkan banyaknya alur pemikiran yang sangat kompleks dalam memahami bagaimana cara seorang editor dapat menghasilkan sebuah editing yang sangat unik dan menarik. karena saya berlatar belakang dari keluarga yang sederhana dan berkecukupan. saya akan membahasnya dari segi perjuangan dari titik nol. dari proses saya mengenal aplikasi video editing dan menggunakannya pada spek komputer yang rendah (dahulu saya menggunakan intel Dual Core E4700, sekarang sudah ditinggalkan). Setelah saya menginjak di bangku kuliah, tenyata saya melihat karya saya penuh dengan kesalahan yang fatal. tentunya tingkan fatal dari sebuah video akan dapat dilihat oleh seorang editor dalam memahami tingkat efektivitas dalam penyampaian makna dari sebuah video.

Seperti halnya kita mengedit video, pastinya spek komputer akan mempengaruhi kinerja dan hasil yang didapatkan pada outputnya. akan tetapi jika kita dapat memanfaatkan apa yang ada dan dengan sentuhan kreativitas, tentunya setumpuk sampah akan di sulap menjadi barang-barang yang bermanfaat. tentunya untuk setiap orang akan berbeda dalam penafsiran tentang sampah, ada yang menganggapnya sampah dan membuangnya dan dihasilkan produk berupa kebersihan. ada yang menganggapnya uang, dikumpulkan semua sampah untuk mendapatkan uang. ada juga yang menggunakan kreativitasnya untuk menyulapnya menjadi sebuah benda yang dapat bermanfaat baginya. seperti halnya editing, terkadang aplikasi sepele pun akan berguna dalam pemanfaatan. tergantung dari sudut pandang sang editor. jikalau kita memandangnya hanya sebuah aplikasi yang tidak berguna, tentunya kita tidak akan pernah mencoba fitur-fiturnya. akan tetapi jika kita mencobanya, maka akan membuat hardisk kita menjadi penuh, tentunya tidak baik juga. oleh kerena itu, editing juga disesuaikan dengan kebutuhan sang editor. apabila ingin menyamakan ukuran video, tentu tidak akan menggunakan adobe premiere, karena prosesnya sangat panjang dibandingkan dengan menggunakan video converter. biasanya saya menggunakan avidemux (freeware) karena disamping saya dapat menggatur setting konfigurasi kualitas video, saya juga dapat mengatur hal-hal yang tidak ada di video converter, seperti pengaturan jenis kompresi dengan detail target ukuran file harus sekian Mb, atau mengubah settting dasar dari H.263/MP4 dan sebagainya.

Maya tidak pernah mempermasalahkan hasil video dengan gambar blur atau tidak jenih, tidak HD. namun, masalah yang sebenarnya yang ada adalah bagaimana kita mengembangkan kreativitas kita dengan mengotak-atik aplikasi tersebut. tentunya dengan spek komputer seperti itu tidak akan pernah di hasilkan video yang sangat berkualitas. tetapi hakikatnya, kreativitas itulah yang sangat penting! Tidak ada kreativitas, tidak akan pernah jadi sebuah video. kualitas kejernihan hanya ukuran nomor 30 dari video. Anda pastinya akan menggunakan kemampuan anda untuk melamar kerja disebuah stasiun televisi atau sebuah perusahan rekaman. tentunya anda akan diwajibkan bekerja lebih profesional. dengan keterampilan yang anda dapatkan dari belajar, tentunya anda akan mendapatkan nilai lebih karena anda mempunyai banyak pengalaman. tidak perlu takut mengunggulkan sebuah resolusi yang masih dibawah PAL, karena video editing itu hakikatnya adalah kreasi dalam anda memberikan pendapat kepada perusahaan anda, bagaimana jika saya menggunakan cara seperti ini lalu saya menggunakan teknik ini untuk mengubahnya menjadi lebih baik. tentunya anda akan paham dalam bertindak dalam berkreasi. berbeda jika kita bekerja hanya untuk mengunggulkan kualitas, tentunya kita pasti akan melupakan isi dari video tersebut, kecuali jika bekerja dalam tim saat bekerja diperusahaan.

Semoga dapat menjadi renungan bagi kita semua agar selalu berusaha dengan tekad yang kuat dalam segala hal dan janganlah aneh-aneh dalam menentukan parameter normal hidup. karena parameter normal sesuai dengan gaya hidup yang kita jalani.


Malang, 27 Februari 2014
Ahmad Mufidun